Read more: http://www.kowandy.com/2012/04/cara-agar-blog-cepat-di-buka-lewat-hp.html#ixzz26J64UFeZ DARKKILLER: Agama

Biarlah kucoba menjadi 'Pembunuh Kegelapan' dalam hatimu, mengukir setiap karya dengan pena, menumbuhkannya dalam kanvas blog ini.

Pages

Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2012

12 Golongan Orang yang Dido'akan Malaikat


Bismillah..
Ketemu lagi denganku nih kawan langsung saja, kemarin secara tidak sengaja yang direncana (hloh) aku membaca status milik temen, sebut saja Rohimun. aku merasa ini bagus karena tidak semua orang mengetahui tentang ini. tentang sesuatu yang menurut kebanyakan dari kita itu hal sepele, tapi berakibat kebaikan yang besar- dido'akan Malaikat, bayangin aja kawan. pengen tau dan pengen menjadi bagian dari mereka-mereka yang dido'akan Malaikat nggak? beneran mau?
Oke, berikut ini kawan golongan orang-orang yang mendapat kebaikan dariNya, insya Allah-dido'akan oleh para Malaikat. :)

1. Orang yang tidur dalam keadaan
bersuci.
"Barangsiapa yang tidur dalam
keadaan suci, maka malaikat akan
bersamanya di dalam pakaiannya.
Dia tidak akan bangun hingga
malaikat berdoa 'Ya Allah,
ampunilah hambamu si fulan
karena tidur dalam keadaan suci".
(HR Imam Ibnu Hibban dari
Abdullah bin Umar)

2. Orang yang sedang duduk
menunggu waktu shalat.
"Tidaklah salah seorang diantara
kalian yang duduk menunggu
shalat, selama ia berada dalam
keadaan suci, kecuali para malaikat
akan mendoakannya 'Ya Allah,
ampunilah ia. Ya Allah sayangilah
ia' (HR Imam Muslim dari Abu
Hurairah, Shahih Muslim 469)

3. Orang-orang yang berada di
shaf barisan depan di dalam shalat
berjamaah.
"Sesungguhnya Allah dan para
malaikat-Nya bershalawat kepada
(orang -orang) yang berada pada
shaf - shaf terdepan" (Imam Abu
Dawud dan Ibnu Khuzaimah) dari
Barra' bin 'Azib

4. Orang-orang yang menyambung
shaf pada sholat berjamaah (tidak
membiarkan sebuah kekosongan
di dalam shaf).
"Sesungguhnya Allah dan para
malaikat selalu bershalawat
kepada orang-orang yang
menyambung shaf-shaf" (Para
Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah,
Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan
Al Hakim meriwayatkan dari
Aisyah)

5. Para malaikat mengucapkan
'aamiin' ketika seorang Imam
selesai membaca Al Fatihah.
"Jika seorang Imam membaca
'ghairil maghdhuubi 'alaihim
waladh dhaalinn', maka
ucapkanlah oleh kalian 'aamiin',
karena barangsiapa ucapannya itu
bertepatan dengan ucapan
malaikat, maka ia akan diampuni
dosanya yang masa lalu" (HR Imam
Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih
Bukhari 782)

6. Orang yang duduk di tempat
shalatnya setelah melakukan
shalat.
"Para malaikat akan selalu
bershalawat (berdoa ) kepada
salah satu diantara kalian selama ia
ada di dalam tempat shalat dimana
ia melakukan shalat, selama ia
belum batal wudhunya, (para
malaikat) berkata, 'Ya Allah
ampunilah dan sayangilah ia'"(HR
Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al
Musnad no. 8106)

7. Orang-orang yang melakukan
shalat shubuh dan'ashar secara
berjama'ah.

8. Orang yang mendoakan
saudaranya tanpa sepengetahuan
orang yang didoakan.
"Doa seorang muslim untuk
saudaranya yang dilakukan tanpa
sepengetahuan orang yang
didoakannya adalah doa yang
akan dikabulkan. Pada kepalanya
ada seorang malaikat yang
menjadi wakil baginya, setiap kali
dia berdoa untuk saudaranya
dengan sebuah kebaikan, maka
malaikat tersebut berkata 'aamiin
dan engkaupun mendapatkan apa
yang ia dapatkan' (HR Imam
Muslim dari Ummud Darda', Shahih
Muslim 2733)

9. Orang-orang yang berinfak.
"Tidak satu hari pun dimana pagi
harinya seorang hamba ada
padanya kecuali 2 malaikat turun
kepadanya, salah satu diantara
keduanya berkata, 'Ya Allah,
berikanlah ganti bagi orang yang
berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya
Allah, hancurkanlah harta orang
yang pelit' (HR Imam Bukhari dan
Imam Muslim dari Abu Hurairah,
Shahih Bukhari 1442 dan Shahih
Muslim 1010)

10. Orang yang sedang makan
sahur.
"Sesungguhnya Allah dan para
malaikat-Nya bershalawat
(berdoa ) kepada orang-orang
yang sedang makan sahur" Insya
Allah termasuk disaat sahur untuk
puasa"sunnah" (HR Imam Ibnu
Hibban dan Imam Ath Thabrani,
dari Abdullah bin Umar)

11. Orang yang sedang menjenguk
orang sakit.
"Tidaklah seorang mukmin
menjenguk saudaranya kecuali
Allah akan mengutus 70.000
malaikat untuknya yang akan
bershalawat kepadanya di waktu
siang kapan saja hingga sore dan
di waktu malam kapan saja hingga
shubuh" (HR Imam Ahmad dari 'Ali
bin Abi Thalib,Al Musnad 754)

12. Seseorang yang sedang
mengajarkan kebaikan kepada
orang lain.
"Keutamaan seorang alim atas
seorang ahli ibadah bagaikan
keutamaanku atas seorang yang
paling rendah diantara kalian.
Sesungguhnya penghuni langit
dan bumi, bahkan semut yang di
dalam lubangnya dan bahkan ikan,
semuanya bershalawat kepada
orang yang mengajarkan kebaikan
kepada orang lain" (HR Imam
Tirmidzi dari Abu Umamah Al
Bahily)

Wallahua’lam bish shawwab

Alhamdulillah, moga bermanfaat ^_^
- 12 Golongan Orang yang Dido'akan Malaikat

Kamis, 18 Oktober 2012

Empat Orang yang Dilaknat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam


Oleh Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari – hafizhahullah-

Bissmillah..
Naskah ini diangkat berdasarkan khutbah Jum’at Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari – hafizhahullah- di Masjid al Akbar Surabaya, 18 Muharram 1427H bertepatan 17 Februari 2006. Narasi khutbah tersebut diterjemahkan oleh Abdurrahman Thayyib, kemudian kami tulis kembali dalam bentuk naskah, dengan penyesuaian seperlunya, tanpa mengurangi substansi materi. Judul di atas adalah dari Redaksi. Semoga bermanfaat. (Redaksi).
_________________________________________________________

Dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Ł„َŲ¹َنَ اللهُ Ł…َن Ų°َŲØَŲ­َ Ł„ِŲŗَيرِ اللهِ, و Ł„َŲ¹َنَ اللهُ Ł…َن Ų³َŲØَّ وَŲ§Ł„ِŲÆَŁŠŁ‡ِ, و Ł„َŲ¹َنَ اللهُ Ł…َن ŲŗَيَّŲ±َ Ł…َنَŲ§Ų±َ الأَŲ±Ų¶ِ,
Ł„َŲ¹ََنَ اللهُ Ł…َن آوَى Ł…ُŲ­ŲÆِŲ«َŲ§
Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang mencaci-maki kedua orang- tuanya. Allah melaknat orang yang merubah tanda batas tanah (orang lain), dan Allah melaknat orang yang melindungi orang yang mengada-adakan perkara baru dalam agama (bid’ah).

TAKHRIJ HADITS
- HR Bukhari di Adabul Mufrad, bab (8) man la’ana Allah man la’ana walidaih, no. 17.
- Muslim, dalam Shahih Muslim, kitab al adhahi, no. 3657, 3658, 3659.
- An Nasa-i, dalam as Sunan, kitab adh dhahaya, no. 4346, dan
- Ahmad di berbagai tempat dalam Musnad-nya.[1]


SYARAH HADITS
Di antara nikmat Allah yang terbesar dan anugerahNya yang paling agung, yaitu dijadikannya kita sebagai kaum Muslimin dan kaum Mukminin yang hanya beribadah kepadaNya, dan yang hanya mengikuti NabiNya Shallallahu ‘alaihi was sallam, serta menjadi pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Islam adalah agama yang mulia, tegak di atas al Qur`an dan Sunnah.
Allah berfirman dalam al Qur`an :


وَŲ£َنْŲ²َŁ„ْنَŲ§ Ų„ِŁ„َيْكَ الذِّكْŲ±َ Ł„ِŲŖُŲØَيِّنَ Ł„ِلنَّŲ§Ų³ِ Ł…َŲ§ نُŲ²ِّŁ„َ Ų„ِŁ„َيْهِŁ…ْ

Dan Kami turunkan kepadamu al Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. [an Nahl : 44].
Al Qur`an adalah dzikr, dan Sunnah adalah dzikr, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ketahuilah, bahwa aku telah diberi al Qur`an dan yang semisal dengannya”.
Al Qur`an adalah Kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan mukjizat, dan membacanya terhitung sebagai suatu ibadah. Demikian pula Sunnah (hadits) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti yang telah Dia firmankan :

وَŁ…َŲ§ يَنْŲ·ِŁ‚ُ Ų¹َنِ Ų§Ł„ْهَوَى , Ų„ِنْ هُوَ Ų„ِŁ„َّŲ§ وَŲ­ْيٌ يُوحَى .

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). [an Najm : 3-4].
Dan sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Amru bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil bertanya : “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya, Anda terkadang berkata dalam keadaan marah dan terkadang dalam keadaan ridha. Apakah boleh kita menulis semua yang Anda katakan?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Tulis semuanya, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah yang keluar dariku melainkan haq (benar),” sambil menunjuk ke arah mulut beliau yang suci.
Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tafsir bagi ayat-ayat yang global dalam al Qur`an dan pengkhusus bagi ayat-ayat yang umum, serta pengikat bagi ayat-ayat yang mutlak, dan dia adalah wahyu Allah Ta’ala. Di antara wahyu tersebut adalah diberinya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jawaami’ul kalim, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim, Pent), beliau bersabda : “Aku diutus dengan jawaami’ul kalim”. Arti jawaami’ul kalim adalah ucapan singkat, tetapi padat maknanya.
Di antara jawaami’ul kalim tersebut adalah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan pembahasan kita sekarang yang tercantum dalam Shahih Muslim, dari seorang sahabat yang mulia dan seorang khalifah yang mendapat petunjuk, yaitu Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Ł„َŲ¹َنَ اللهُ Ł…َن Ų°َŲØَŲ­َ Ł„ِŲŗَيرِ اللهِ, و Ł„َŲ¹َنَ اللهُ Ł…َن Ų³َŲØَّ وَŲ§Ł„ِŲÆَŁŠŁ‡ِ, و Ł„َŲ¹َنَ اللهُ Ł…َن ŲŗَيَّŲ±َ Ł…َنَŲ§Ų±َ الأَŲ±Ų¶ِ, Ł„َŲ¹ََنَ اللهُ Ł…َن آوَى Ł…ُŲ­ŲÆِŲ«َŲ§ و

Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang mencaci-maki kedua orang- tuanya. Allah melaknat orang yang merubah tanda batas tanah (orang lain), dan Allah melaknat orang yang melindungi orang yang mengada-adakan perkara baru dalam agama (bid’ah).
Hadits ini amat singkat, namun mengandung banyak perkara yang berharga, karena menjelaskan hak-hak yang agung, yang menjadi landasan sosial masyarakat muslim. Jika kaum Muslimin telah mundur ke belakang, maka dengan mewujudkan hak-hak ini, mereka akan kembali menjadi umat yang maju di tengah umat-umat yang lain.
Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang hak ibadah, hak sunnah, hak nafs (jiwa), dan hak orang lain. Jika kita mau merenungi keempat hak-hak di atas, maka kita akan mendapatkan hal tersebut telah mencakup semua hak muslim, baik yang berkaitan dengan dirinya, orang lain, dan yang berkaitan dengan Rabb-nya serta NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hak ibadah adalah tauhid yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah”. Bagaimana dia bisa mengarahkan sembelihan kepada selain Allah? Sedangkan tindakan tersebut termasuk ibadah. Dan ibadah adalah sebuah nama yang mencakup hal-hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin, sebagaimana yang telah Allah Azza wa Jalla firmankan :

Ł‚ُŁ„ْ Ų„ِنَّ ŲµَŁ„َŲ§ŲŖِي وَنُŲ³ُكِي وَŁ…َŲ­ْيَايَ وَŁ…َŁ…َŲ§ŲŖِي Ł„ِŁ„َّهِ Ų±َŲØِّ Ų§Ł„ْŲ¹َŲ§Ł„َŁ…ِŁŠŁ†َ(162)Ł„َŲ§ Ų“َŲ±ِيكَ Ł„َهُ وَŲØِŲ°َŁ„ِكَ Ų£ُŁ…ِŲ±ْŲŖُ وَŲ£َنَŲ§ Ų£َوَّŁ„ُ Ų§Ł„ْŁ…ُŲ³ْŁ„ِŁ…ِŁŠŁ†َ

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku (sesembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [al An'am : 162-163].
Menjaga hak tauhid dan ibadah, adalah kewajiban yang harus ditanamkan di dalam hati dan akal pikiran, lalu diwujudkan dalam amal perbuatan dengan penuh keyakinan, tanpa ada sedikit pun keraguan. Bagaimana tidak demikian, sedangkan kita tidaklah diciptakan, melainkan hanya untuk beribadah kepadaNya saja, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

وَŁ…َŲ§ Ų®َŁ„َŁ‚ْŲŖُ Ų§Ł„ْŲ¬ِنَّ وَŲ§Ł„ْŲ„ِنْŲ³َ Ų„ِŁ„َّŲ§ Ł„ِيَŲ¹ْŲØُŲÆُŁˆŁ†ِ (56) Ł…َŲ§ Ų£ُŲ±ِيدُ Ł…ِنْهُŁ…ْ Ł…ِنْ Ų±ِŲ²ْŁ‚ٍ وَŁ…َŲ§ Ų£ُŲ±ِيدُ Ų£َنْ يُŲ·ْŲ¹ِŁ…ُŁˆŁ†ِ (57) Ų„ِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّŲ²َّŲ§Ł‚ُ Ų°ُو Ų§Ł„ْŁ‚ُوَّŲ©ِ Ų§Ł„ْŁ…َŲŖِŁŠŁ†ُ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. [adz Dzariyaat : 56-58].
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengajarkan kepada sahabat-sahabat beliau yang masih kecil, apalagi kepada yang dewasa tentang hak ibadah ini agar ditanamkan dalam hati, dan tumbuh di dalam akal pikiran serta anggota badan.
Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu –sepupu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya : “Wahai, anak kecil. Aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa perkara. (Yaitu) jagalah Allah, maka pasti Allah menjagamu. Jagalah Allah, pasti engkau akan mendapatiNya di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, mintalah kepada Allah”.
Maka, tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah. Tidak ada yang berhak dimintai pertolongan melainkan Allah. Tidak ada yang berhak dijadikan sumpah melainkan Allah. Dan tidak ada yang berhak diistighasahi, melainkan Allah. Tidak ada yang berhak diserahi sesembelihan dan nadzar, melainkan Allah. Tidak boleh bernadzar kepada Nabi, wali maupun siapa saja, meskipun tinggi kedudukannya. Dengan ini, (seorang muslim) bisa menjaga hak ibadah dan tauhidnya.
Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah melaknat orang yang melindungi muhditsan”.
Al muhdits, adalah orang yang mengada-adakan hal baru dalam agama (bid’ah) dan yang merubah Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal ini, terdapat pemeliharaan terhadap hak Sunnah dan ittiba’ (mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ketika kita mengikrarkan kalimat tauhid Laa ilaha illallah Muhammaddur Rasulullah. Maka, ucapan ini mengandung hak-hak, kewajiban-kewajiban serta konsekuensi-konsekuensi. Dan kalimat tersebut, bukan hanya sekedar huruf-huruf yang digandeng, atau ucapan yang terlepas begitu saja dari lisan. Tetapi, dengan kalimat inilah berdiri langit dan bumi. Tidak diciptakan manusia, melainkan untuk mewujudkan kandungan kalimat tersebut. Dan tidaklah diturunkan kitab-kitab Allah serta diutus para rasul, melainkan karenanya.
Kalimat Laa ilaha illallahu, maknanya tidak ada yang berhak disembah dengan benar, kecuali Allah. Dan kalimat Muhammadur Rasulullah, maknanya tidak ada yang berhak diikuti, melainkan Rasulullah. Sebaik-baiknya perkara adalah apa yang disunnahkannya. Dan sejelek-jeleknya perkara adalah apa yang beliau tinggalkan (bid’ah, Pent). Tidaklah beliau meninggal dunia, melainkan beliau telah menjelaskan segala kebaikan kepada kita dan melarang dari segala kejelekan.
Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dari sahabat Abu Dzar al Ghifari Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata : “Tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kita, sampai-sampai burung yang terbang di udara telah beliau jelaskan kepada kita ilmunya”.
Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang hak Sunnah yaitu hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang berhak diikuti, melainkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaulah suri tauladan yang baik dan yang sempurna bagi kita; bagaimana tidak, sedangkan Allah telah berfirman tentang beliau :

Ł„َŁ‚َŲÆْ كَانَ Ł„َكُŁ…ْ فِي Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ِ اللَّهِ Ų£ُŲ³ْوَŲ©ٌ Ų­َŲ³َنَŲ©ٌ Ł„ِŁ…َنْ كَانَ يَŲ±ْŲ¬ُو اللَّهَ وَŲ§Ł„ْيَوْŁ…َ Ų§Ł„ْŲ¢Ų®ِŲ±َ وَŲ°َكَŲ±َ اللَّهَ كَŲ«ِيرًŲ§

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [al Ahzab : 21].
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan, bahwa satu-satunya jalan petunjuk, yang seorang hamba selalu memohonnya lebih dari sepuluh kali sehari semalam di kala shalat fardhu, sunnah maupun nafilah, yaitu اهْŲÆِنَŲ§ الصِّŲ±َŲ§Ų·َ Ų§Ł„ْŁ…ُŲ³ْŲŖَŁ‚ِŁŠŁ…َ (Tunjukilah kami jalan yang lurus), adalah dengan mengikuti sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada jalan yang lurus melainkan dengan mengikuti Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang telah Allah firmankan وَŲ„ِنْ ŲŖُŲ·ِيعُŁˆŁ‡ُ ŲŖَهْŲŖَŲÆُوا (Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. –an Nuur : 54). Apabila kalian mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kalian akan mendapat hidayah yang selalu kalian minta kepada Rabb kalian dikala siang dan petang hari. Inilah hak Allah, dan inilah hak RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta hak agamaNya. Maka apakah kita telah menjalankan semua hak-hak ini?
Di bagian yang lain dari hadits ini terdapat peringatan adanya dua kewajiban lain.
Yang pertama, yang merupakan urutan kedua dari hadits di atas, yaitu sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Allah melaknat orang yang mencela kedua orang tuanya”. Ini adalah kewajibanmu dan anda mesti menjadi pemeliharanya dengan baik. Yaitu engkau berbakti kepada keduanya, mendoakan mereka dan menjaga hak-hak mereka, tidak meremehkannya serta tidak menjadi penyebab engkau mencaci kedua orang tuamu.
Hak kedua orang tua, terkadang bisa secara langsung disia-siakan oleh anak yang durhaka, yaitu dengan mencaci-maki ayah atau ibunya karena mencari ridha sang istri, hawa nafsu maupun setannya. Dan sangat disesalkan, hal ini terjadi (di tengah masyarakat kita, Pent).
Adapun yang kedua, secara tidak langsung, yaitu engkau berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain mencaci-maki kedua orang tuamu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci-maki kedua orang tuanya,” para sahabat bertanya,”Bagaimana seseorang bisa mencaci-maki kedua orang tuanya?” maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Dia mencaci-maki ayah orang lain, lalu orang lain itu mencaci maki kembali orang tuanya”. Dan ini (termasuk) di antara arah tujuan syariat, yaitu menutup segala pintu (kejelekan) serta membendung kerusakan. Engkau tidak boleh berbuat suatu yang mengakibatkan kerusakan yang besar di kemudian hari. Tetapi amat disayangkan, perkara ini secara global banyak disepelekan oleh sebagian kaum Muslimin, bahkan oleh Islamiyyin (orang-orang yang bersemangat membela Islam tanpa bekal ilmu yang benar, Pent). Kita melihat, mereka bersemangat dalam banyak perkara dan banyak berbuat sesuatu, dan mereka mengira hal tersebut sebagai suatu bentuk hidayah dan kebenaran, namun hakikatnya tidak seperti itu [2]. Mereka melakukan dengan semangat membara, yang mengakibatkan umat Islam menjadi santapan lezat bagi umat-umat yang lain, dan menjadikan orang-orang kafir menguasai kaum Muslimin dan merampas harta kekayaan mereka.
Ini termasuk menutup segala pintu kejelekan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melarang kita mencaci-maki orang tua, sebuah tindakan yang termasuk dosa, maka bagaimana jika kita melakukannya lebih dari itu? Yaitu mencaci-maki orang tua orang lain, lalu orang tersebut mencaci-maki kedua orang tua kita? Ini termasuk dosa besar. Jika kita melaksanakan ketaatan kepada mereka maka ini termasuk menjaga hak jiwa pribadi (nafs) . Adapun meremehkan dan menyia-nyiakan mereka, maka akibat buruknya akan menimpa dirinya sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : [وَŁ‚َŲ¶َى Ų±َŲØُّكَ Ų£َŁ„َّŲ§ ŲŖَŲ¹ْŲØُŲÆُوا Ų„ِŁ„َّŲ§ Ų„ِيَّاهُ وَŲØِŲ§Ł„ْوَŲ§Ł„ِŲÆَيْنِ Ų„ِŲ­ْŲ³َانًŲ§] Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra’ : 23).
Di dalam ayat ini Allah menyatukan antara ketaatan kepada kedua orang tua dengan ibadah hanya kepada-Nya saja, karena didalamnya terdapat unsur pemeliharaan terhadap hak jiwa sendiri, ayah dan anak.

Adapun hak yang terakhir yang disebutkan dalam hadits ini adalah yang berkaitan dengan hak orang lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadits ini empat hak yaitu : (1). Hak Allah (2). Hak Nabi (3). Hak nafs (4). Hak orang lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah melaknat orang yang merubah tanda batas tanah orang lain” maksudnya dia melanggar hak (tanah) orang lain baik itu tetangganya, kerabat, saudaranya ataupun orang yang jauh darinya. Barangsiapa yang melanggar hak orang lain meski kelihatannya sepele, niscaya akan terkena ancaman dalam hadits ini. Jika melanggar hak tanah orang lain saja yang berkaitan dengan masalah dunia mengakibatkan terlaknat, maka bagaimana kalau pelanggaran tersebut berkaitan dengan hak yang lebih besar dari itu seperti melanggar kehormatan atau kemuliaan orang lain dengan menggunjingnya, mengadu domba, berdusta atas namanya ?
Renungilah sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam : [Ų„ِنَّ Ų£Ų±ŲØَى الرِŲØَŲ§ Ų§Ų³ŲŖِŲ·َŲ§Ł„َŲ© الرَŲ¬ُŁ„ِ فِي Ų¹ِŲ±Ų¶ِ Ų£َŲ®ِŁŠŁ‡ِ المُسلِŁ…] Artinya : “Dosa riba yang paling besar adalah seseorang melanggar kehormatan saudaranya muslim” yaitu dengan menggunjingnya, berdusta atas namanya, berburuk sangka kepadanya atau dengan mengadu domba antara dia dengan orang lain. Semua ini terlarang dan merupakan sebab perampasan hak orang lain dan termasuk dosa besar.
Jika kita mengetahui sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Satu dirham (hasil) riba yang dimakan oleh seseorang yang tahu (hukum-nya-pent) lebih besar dosanya di sisi Allah dari pada 36 kedustaan” Apabila ini tingkat paling rendah akibat harta riba, maka bagaimana dengan riba yang paling besar ? Ini semua dalam rangka menjaga hak-hak orang lain baik kerabat maupun orang yang jauh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpesan kepada Mu’adz bin Jabal, beliau bersabda : “Dan pergauli manusia dengan akhlak yang baik”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan (pergaulilah) orang-orang mukmin atau muslimin atau yang berpuasa saja atau orang-orang shalih atau shadiqin saja, tapi beliau malah mengatakan (pergaulilah manusia) maksudnya semua manusia baik dia mukmin atau kafir, shaleh atau tholeh. Karena dengan akhlakmu disertai pemeliharaan terhadap hakmu dan hak orang lain, engkau dapat mengambil hati mereka sehingga engkau bisa menyerunya (kepada kebenaran).
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
Sumber: almanhaj.or.id dan dipublikasikan oleh http://fakhri.tk/


(Dipersilahkan untuk copas artikel ini dan dimohon dengan sangat untuk tetap mencantumkan link/url sumber dan publisher,Syukron)

_______
Footnote
[1]. Takhrij ini merupakan tambahan dari Redaksi
[2]. Hal ini seperti yang dilakukan oleh harokiyyin yang selalu semangat dalam mengobarkan api jihad melawan orang-orang kafir dengan melakukan peledakan-peledakan atau pembantaian warga sipil. Mereka kira, dengan semua itu dapat memuliakan Islam dan kaum Muslimin, padahal jika mereka mau merenungi kembali, justru mereka telah menyebabkan kaum Muslimin semakin ditindas dan mencoreng nama Islam. Sungguh benar yang Allah firmankan tentang mereka ini :

[Ł‚ُŁ„ْ هَŁ„ْ نُنَŲØِّŲ¦ُكُŁ…ْ ŲØِŲ§Ł„ْŲ£َŲ®ْŲ³َŲ±ِŁŠŁ†َ Ų£َŲ¹ْŁ…َŲ§Ł„ًŲ§(103)Ų§Ł„َّŲ°ِŁŠŁ†َ Ų¶َŁ„َّ Ų³َŲ¹ْيُهُŁ…ْ فِي Ų§Ł„ْŲ­َيَŲ§Ų©ِ الدُّنْيَŲ§ وَهُŁ…ْ يَŲ­ْŲ³َŲØُŁˆŁ†َ Ų£َنَّهُŁ…ْ يُŲ­ْŲ³ِنُŁˆŁ†َ ŲµُنْŲ¹ًŲ§
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. -al Kahfi : 103-104. (Redaksi)
[3]. Kemudian khutbah ini beliau tutup dengan doa. (Redaksi).

Alhamdulillah,semoga bermanfaat kawan.. ^_^
- Empat Orang yang Dilaknat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Minggu, 14 Oktober 2012

Mengkritisi Keabsahan Hadits-hadits Kitab Ihya’ Ulumiddin


Oleh Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A. (Lulusan S2 Jurusan Hadits, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia)

بسم الله الرحمن Ų§Ł„Ų±Ų­ŁŠŁ…

Kiranya tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa kitab Ihya’ Ulumiddin adalah termasuk kitab berbahasa Arab yang paling populer di kalangan kaum muslimin di Indonesia, bahkan di seluruh dunia.
Kitab ini dianggap sebagai rujukan utama, sehingga seorang yang telah menamatkan pelajaran kitab ini dianggap telah mencapai kedudukan yang tinggi dalam pemahaman agama Islam.

Padahal, kiranya juga tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa kitab ini termasuk kitab yang paling keras diperingatkan oleh para ulama untuk dijauhi, bahkan di antara mereka ada yang merekomendasikan agar kitab ini dimusnahkan! (Lihat kitab Siyaru A’laamin Nubala’, 19/327 dan 19/495-496).

Betapa tidak, kitab ini berisi banyak penyimpangan dan kesesatan besar, sehingga orang yang membacanya apalagi mendalaminya tidak akan aman dari kemungkinan terpengaruh dengan kesesatan tersebut, terlebih lagi kesesatan-kesesatan tersebut dibungkus dengan label agama.


Di antara kesesatan besar yang dikandung buku ini adalah pembenaran ideologi (keyakinan) wihdatul wujud (bersatunya wujud Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan wujud makhluk), yaitu keyakinan bahwa semua yang ada pada hakikatnya adalah satu dan segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini tidak lain merupakan perwujudan/ penampakan Zat Ilahi (Allah Subhanahu wa Ta’ala) – Mahasuci Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala keyakinan rusak ini –.

Keyakinan sangat menyimpang bahkan kafir ini dibenarkan secara terang-terangan oleh penulis kitab ini di beberapa tempat dalam kitab ini, misalnya pada jilid ke-4 halaman 86 dan halaman 245-246 (cet. Darul Ma’rifah, Beirut).
Cukuplah pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut ini menggambarkan besarnya penyimpangan dan kesesatan yang terdapat dalam kitab ini, “Kitab ini berisi pembahasan-pembahasan yang tercela, (yaitu) pembahasan yang rusak (menyimpang dari Islam) dari para ahli filsafat yang berkaitan dengan tauhid (pengesaaan Allah Subhanahu wa Ta’ala), kenabian dan hari kebangkitan. Maka, ketika penulisnya menyebutkan pemahaman orang-orang ahli Tasawwuf (yang sesat) keadaannya seperti seorang yang mengundang seorang musuh bagi kaum muslimin tetapi (disamarkan dengan) memakaikan padanya pakaian kaum muslimin (untuk merusak agama mereka secara terselubung). Sungguh para imam (ulama besar) Islam telah mengingkari (kesesatan dan penyimpangan) yang ditulis oleh Abu Hamid al-Gazali dalam kitab-kitabnya” (Kitab Majmu’ul Fataawa, 10/551-552).
Oleh karena itu, Imam Adz-Dzahabi menukil ucapan Imam Muhammad bin al-Walid Ath-Thurthuusyi yang mengatakan bahwa kitab Ihya’ Ulumiddin (artinya: menghidupkan ilmu-ilmu agama) lebih tepat jika dinamakan Imaatatu ‘uluumid diin (mematikan/merusak ilmu-ilmu agama).

Di samping itu, kitab ini juga memuat banyak hadits lemah bahkan palsu, yang tentu saja tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan banyak di antaranya yang sangat bertentangan dengan prinsip dasar agama Islam.
Hal ini tidaklah mengherankan, karena sang penulis adalah seorang yang kurang pengetahuannya terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, khususnya dalam membedakan hadits yang shahih dan hadits yang lemah, sebagaimana pernyataan sang penulis sendiri, “Aku memiliki barang dagangan (pengetahuan) yang sedikit tentang hadits (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)” (Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidaayah wan Nihaayah, 12/174).

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas semua kesesatan tersebut, tetapi saya akan membahas dan menilai keabsahan hadits-hadits yang dimuat dalam kitab ini, berdasarkan keterangan para ulama ahlus sunnah yang terlebih dahulu meneliti dan mengkritisi kitab ini.

Kritikan para ulama Ahlus Sunnah terhadap hadits-hadits dalam kitab ini

1- Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi berkata (dalam kitab beliau Minhaajul Qaashidiin, sebagaimana yang dinukil dalam Majalah Al-Bayaan, edisi 48 hal. 81), “Ketahuilah, bahwa kitab Ihya’ Ulumiddin di dalamnya terdapat banyak kerusakan (penyimpangan) yang tidak diketahui kecuali oleh para ulama. Penyimpangannya yang paling ringan (dibandingkan penyimpangan-penyimpangan besar lainnya) adalah hadits-hadits palsu dan batil (yang termaktub di dalamnya), juga hadits-hadits mauquf (ucapan shahabat atau tabi’in) yang dijadikan sebagai hadits marfu’ (ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Semua itu dinukil oleh penulisnya dari referensinya, meskipun bukan dia yang memalsukannya. Dan (sama sekali) tidak dibenarkan mendekatkan diri (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) dengan hadits yang palsu, serta tidak boleh tertipu dengan ucapan yang didustakan (atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

2- Imam Abu Bakr Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthuusyi berkata, “…Kemudian Abu Hamid al-Gazali memenuhi kitab ini dengan kedustaan atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan aku tidak mengetahui sebuah kitab di atas permukaan hamparan bumi ini yang lebih banyak (berisi) kedustaan atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kitab ini.” (Dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyaru A’laamin Nubala’, 19/495).

3- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dalam kitab ini terdapat hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang lemah bahkan banyak hadits yang palsu. Juga terdapat banyak kebatilan dan kebohongan orang-orang ahli Tasawwuf.” (Kitab Majmu’ul Fataawa, 10/552).

4- Imam Adz-Dzahabi berkata, “Adapun kitab Ihya’ Ulumiddin, maka di dalamnya terdapat sejumlah (besar) hadits-hadits yang batil (palsu).” (Kitab Siyaru A’laamin Nubala’, 19/339).
5- Imam Ibnu Katsir berkata, “…Akan tetapi di dalam kitab ini banyak terdapat hadits-hadits yang asing, mungkar dan palsu.” (Kitab Al-Bidaayah wan Nihaayah, 12/174).

6- Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata, “Betapa banyak kitab Ihya’ Ulumiddin memuat hadits-hadits (palsu) yang oleh penulisnya dipastikan penisbatannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal Imam Al-Iraqi dan para ulama lainnya menegaskan bahwa hadits-hadits tersebut tidak ada asalnya (hadist palsu).” (Kitab Silsilatul Ahaadiitsidh Sha’iifah wal Maudhuu’ah, 1/60).

7- Bahkan, Imam As-Subki mengumpulkan hadits-hadits dalam kitab Ihya’ Ulumiddin yang tidak ada asalnya (palsu), dan setelah dihitung semuanya berjumlah 923 hadits (lihat kitab Thabaqaatusy Syaafi’iyyatil Kubra, 6/287).

Beberapa contoh hadits palsu dan lemah yang dimuat dalam kitab ini

1. Hadits, “Percakapan dalam masjid akan memakan/ menghapus (pahala) kebaikan seperti binatang ternak yang memakan rumput.” (Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, 1/152, cet. Darul Ma’rifah, Beirut).
Hadits ini dihukumi oleh Imam Al-‘Iraqi, As-Subki dan Syaikh al-Albani sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits (lihat kitab Silsilatul Ahaadiitsidh Dha’iifah wal Maudhuu’ah, 1/60).

2. Hadits, “Taufik yang sedikit lebih baik dari ilmu yang banyak.” (Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, 1/31).
Hadits ini juga dihukumi oleh para ulama di atas sebagai sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya (lihat kitab Thabaqaatusy Syaafi’iyyatil Kubra, 6/287 dan Difaa’un ‘anil Hadiitsin Nabawi, halaman 46).

3. Hadits, “Agama Islam dibangun di atas kebersihan.” (Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, 1/49).
Hadits ini adalah hadits yang palsu, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama ‘Umar bin Shubh al-Khurasani, Ibnu Hajar berkata tentangnya (dalam kitab Taqriibut Tahdziib, halaman 414), “Dia adalah perawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya karena sangat lemah), bahkan (Imam Ishak) bin Rahuyah mendustakannya.” (Lihat kitab Silsilatul Ahaadiitsidh Dha’iifah wal Maudhuu’ah, no. 3264).

4. Hadits, “Sesungguhnya orang yang berilmu akan disiksa (dalam neraka) dengan siksaan yang akan membuat sempit (susah) penduduk nereka.” (Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, 1/60).
Hadits ini dihukumi oleh Imam As-Subki sebagai hadits yang tidak ada asalnya (lihat kitab Thabaqaatusy Syaafi’iyyatil Kubra, 6/287).

5. Hadits, “Seburuk-buruk ulama adalah yang selalu mendatangi para penguasa/ pemerintah dan sebaik-sebaik penguasa adalah yang selalu mendatangi para ulama.” (Kitab  Ihya’ Ulumiddin, 1/68).
Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki sebagai hadits yang tidak ada asalnya (lihat kitab Thabaqaatusy Syaafi’iyyatil Kubra, 6/288).

6. Hadits, “Barangsiapa yang berkata, ‘Aku adalah seorang mukmin’, maka dia kafir, dan barangsiapa yang berkata, ‘Aku adalah orang yang berilmu’, maka dia adalah orang yang jahil (bodoh).” (Kitab  Ihya’ Ulumiddin, 1/125).
Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki sebagai hadits yang tidak ada asalnya (lihat kitab Thabaqaatusy Syaafi’iyyatil Kubra, 6/289) dan dinyatakan lemah oleh Imam As-Sakhawi (lihat kitab Al-Maqaashidul Hasanah, halaman 663).

7. Hadits, “Seorang hamba tidak akan mendapatkan (keutamaan) dari shalatnya, kecuali apa yang dipahaminya dari shalatnya.” (Kitab Ihya’ Ulumiddin, 1/159).
Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki sebagai hadits yang tidak ada asalnya (lihat kitab Thabaqaatusy Syaafi’iyyatil Kubra, 6/289).

8. Hadits, “Sesuatu yang pertama kali Allah ciptakan adalah akal…” (Kitab Ihya’ Ulumiddin, 1/83 dan 3/4).
Hadits ini dihukumi oleh Imam Adz-Dzahabi dan Syaikh al-Albani sebagai hadits yang batil dan palsu (lihat kitab Lisaanul Miizaan, 4/314 dan Takhriiju Ahaadiitsil Misykaah, no. 5064).

9. Hadits, “Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.” (Kitab Ihya’ Ulumiddin, 1/71, 3/13 dan 3/23).
Hadits ini dihukumi oleh Syaikh Al-Albani sebagai hadits yang palsu (kitab Silsilatul Ahaadiitsidh Dha’iifah wal Maudhuu’ah, no. 422).

10. Hadits, “Wahai manusia, pahamilah (dengan akal) dari Rabb-mu dan saling berwasiatlah dengan akal.” (Kitab Ihya’ Ulumiddin, 1/202).
Hadits ini adalah hadits palsu, diriwayatkan oleh Dawud bin al-Muhabbar dalam kitab Al-Aql, yang dikatatakan oleh Ibnu Hajar, “Dia adalah perawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya karena sangat lemah) dan kitab Al-Aql yang ditulisnya mayoritas berisi hadits-hadits yang palsu.” (Dalam kitab Taqriibut Tahdziib, halaman 200).

11. Hadits tentang shalat ar-Ragaaib di bulan Rajab (Kitab  Ihya’ Ulumiddin, 1/83).
Hadits ini dihukumi sebagai hadits palsu oleh Imam Al-‘Iraqi (lihat takhrij beliau di catatan kaki kitab tersebut, 2/366, cet. Dar Asy-Syi’ab, Kairo).

Penutup
Dengan uraian ringkas tentang kitab Ihya’ Ulumiddin di atas, jelaslah bagi kita kandungan buruk dan penyimpangan yang terdapat di dalamnya. Maka, seorang muslim yang menginginkan kebaikan dan keselamatan dalam agama dan imannya, hendaknya menjauhkan diri dari membaca buku-buku yang mengajarkan kesesatan seperti ini.
Alhamdulillah, kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang bersih dan selamat dari penyimpangan sangat banyak dan mencukupi untuk diambil manfaatnya.
Apakah kita tidak khawatir akan ditimpa kerusakan dalam pemahaman agama kita dengan membaca kitab seperti ini, padahal kerusakan dan kerancuan dalam memahami agama ini merupakan malapetaka terbesar yang akan berakibat kebinasaan dunia dan akhirat?
Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kerusakan agama dan iman ini, sebagaimana dalam doa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,


ŁˆŁ„Ų§ ŲŖَŲ¬ْŲ¹َŁ„ْ Ł…ُصيبَŲŖَنَŲ§ في ŲÆِيْنِنا
“(Ya Allah) janganlah Engkau jadikan malapetaka (kerusakan) yang menimpa kami dalam agama (keyakinan) kami.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3502, dinyatakan hasan oleh Imam At-Tirmidzi dan Syaikh Al-Albani).

Ketahuilah, bahwa ilmu yang bermanfaat untuk memperbaiki keimanan dan meyempurnakan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah ilmu yang bersumber dari Alquran dan hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dipahami dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka.

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil dari Alquran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta (berusaha) memahami kandungan maknanya, dengan mendasari pemahaman tersebut dari penjelasan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Tabi’in (orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat), dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk) mereka dalam memahami kandungan Alquran dan hadits. (Begitu pula) dalam (memahami penjelasan) mereka dalam masalah halal dan haram, pengertian zuhud, amalan hati (penyucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan pembahasan-pembahasan ilmu lainnya, dengan terlebih dahulu berusaha untuk memisahkan dan memilih (riwayat-riwayat) yang shahih (benar) dan (meninggalkan riwayat-riwayat) yang tidak benar, kemudian berupaya untuk memahami dan menghayati kandungan maknanya. Semua ini sangat cukup (untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat) bagi orang yang berakal dan merupakan kesibukkan (yang bermanfaat) bagi orang yang memberi perhatian dan berkeinginan besar (untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat).” (Kitab Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘ala ‘Ilmil Khalaf, halaman 6).

Sebagai penutup, renungkanlah nasihat emas dari Imam Adz-Dzahabi ketika beliau mengkritik kitab Ihya’ ‘Ulumiddin dan kitab-kitab lain semisalnya yang memuat kesesatan dan penyimpangan, karena tidak mencukupkan diri dengan petunjuk Alquran dan hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar.
Imam Adz-Dzahabi berkata, “Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin di dalamnya terdapat sejumlah (besar) hadits-hadits yang batil (palsu) dan banyak kebaikannya kalau saja kitab itu tidak memuat adab, ritual dan kezuhudan (model) orang-orang (yang mengaku) ahli hikmah dan ahli Tasawwuf yang menyimpang, kita memohon kepada Allah (dianugerahkan) ilmu yang bermanfaat. Tahukah kamu apakah ilmu yang bermanfaat itu? Yaitu ilmu bersumber dari Alquran dan dijabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ucapan dan perbuatan (beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam), serta tidak ada larangan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang tidak menyukai sunnah/ petunjukku, maka dia bukan termasuk golonganku.” (HR. Al-Bukhari (no. 5063) dan Muslim (1401).
Maka, wajib bagimu wahai saudaraku untuk men-tadabbur-i (mempelajari dan merenungkan) Alquran, serta membaca dengan seksama (hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam Ash-Shahiihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim), Sunan An-Nasa’i, Riyadhus Shalihin dan Al-Azkar tulisan Imam An-Nawawi, (maka dengan itu) kamu akan beruntung dan sukses (meraih ilmu yang bermanfaat). Dan jauhilah pemikiran orang-orang Tasawwuf dan filsafat, ritual-ritual ahli riyadhah (ibadah-ibadah khusus ahli Tasawwuf), dan kelaparan (yang dipaksakan) oleh para pendeta, serta igauan tokoh-tokoh ahli khalwat (menyepi/ bersemedi yang mereka anggap sebagai ibadah). Maka, semua kebaikan adalah dengan mengikuti agama (Islam) yang hanif (lurus/ cenderung kepada tauhid) dan mudah (agama yang dibawa dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Maka, kepada Allah-lah kita memohon pertolongan, ya Allah, tunjukkanlah kepada kami jalan-Mu yang lurus.” (Kitab Siyaru A’laamin Nubala’, 19/339-340).


ŁˆŲµŁ„Ł‰ الله ŁˆŲ³Ł„Ł… وبارك على Ł†ŲØŁŠŁ†Ų§ Ł…Ų­Ł…ŲÆ ŁˆŲ¢Ł„Ł‡ ŁˆŲµŲ­ŲØŁ‡ Ų£Ų¬Ł…Ų¹ŁŠŁ†، وآخر ŲÆŲ¹ŁˆŲ§Ł†Ų§ أن الحمد لله Ų±ŲØ Ų§Ł„Ų¹Ų§Ł„Ł…ŁŠŁ†

Kota Kendari, 13 Rabi’ul akhir 1432 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A. (Pengasuh website www.manisnyaiman.com)
Artikel http://fakhri.tk/

(Dipersilahkan untuk copas artikel ini dan dimohon dengan sangat untuk tetap mencantumkan link/url sumber,Syukron.)

Alhamdulillah,semogaa bermanfaat ^_^
- Mengkritisi Keabsahan Hadits-hadits Kitab Ihya’ Ulumiddin

Kamis, 13 September 2012

5 Game yang tanpa kita sadari telah menghina Islam


Bismillah, wa na'udzubillah..
kata tersebut sepertinya pantas untuk mengawali artikelku yang satu ini kawan. Seperti yang kita tahu, game adalah salah satu hiburan yang sangat digemari makhluq bernama manusia, apalagi oleh remaja dan anak-anak. Tapi tanpa kita sadari lewat permainan game tersebut. Kita telah di jajah dalam hal waktu yang bisa membuat kita lupa sholat, pikiran antara kenikmatan bergame ria dengan belajar, pun dijajah dalam hal keimanan melalui game.

Berikut ini ada beberapa game yang mungkin secara sengaja atau tidak telah menghina islam. Saya sangat prihatin dengan game-game keren ini, yang disukai terutama oleh remaja dan anak-anak.

Langsung saja guys kita lihat game - game apa saja yang tanpa kita sadari telah menghina Islam.

1. Devil May Cry 3 
 


Secara garis besar, game ini menceritakan seseorang yang bertugas untuk menentang setan, dan caranya adalah dengan memasuki sarang setan yang terdiri dari 12 pintu. Dan mari kita lihat unsur penghinaanya.





 
Kalian bisa melihat pintu tersebut adalah jalan menuju alam setan. Pertama kali melihat pintunya, pasti kita merasa biasa saja, memang sekilas tidak ada yang aneh. Namun setelah dibandingkan dengan gambar yang berikut ini:



Apakah kalian tahu? Gambar di atas adalah Pintu Ka’bah. Nah, pintu pada game tadi dibuat persis menyerupai pintu Ka’bah. Maksudnya apa? Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan maksud menghina umat Islam, karena tanpa disadari kita telah menyembah sarang setan (Ka’bah). Lets search again.

  

Gambar yang dilingkari tersebut adalah lafadz Allah. Bagaimana menurut kalian?  

2. Clive Barker Undying 


Game ini juga mengisahkan perlawanan terhadap setan, dan letak penghinaanya adalah di saat memasuki istana setan. Terdapat lafadz Allah di dindingnya seperti gambar berikut: 


 

  

3. Prince of Persia 


  
Game yang berlatar tempat di Persia atau sekarang yang merupakan kawasan Iran, Irak, Mesir ini secara keseluruhan memang bertemakan Islam.

Seorang pangeran yang ceritanya membalas dendam ini memang dengan kasat mata tidak ada unsur penghinaanya terhadap Islam. Tapi setelah di selidiki.. unsur penghinaanya adalah sebagai berikut: 



Kalian bisa lihat pedangnya pangeran Dastan yang bertuliskan Arab "Ballighuniy walaul aayah" yang artinya, “Sebarkanlah ajaranku walau satu ayat pun.” (Sabda Rasulullah SAW).

Lantas dimana unsur penghinaanya? Di dalam game ini pangeran membunuh siapa saja yang menghalanginya dan membunuh prajurit-prajurit Persia.

Tahukah Anda bahwa prajurit Persia adalah muslim. Secara tidak langsung game ini mengatakan bahwa ajaran Rasullulah yang disebarkan adalah ajaran membunuh dan mengatakan bahwa umat Islam adalah kaum barbar. 

4. Guitar Hero 3  


  
Langsung saja, mari lihat gambar berikut ini:







Dengan jelas terpampang di lantai panggung dan di injak-injak dan coba lihat latar belakang panggung yang merupakan setan semua. 


5. Resident Evil 4 


  
Game ini diceritakan seorang yang bertugas mengemban misi menyelamatkan dunia dari ancaman zombie (mayat hidup). Unsur penghinaanya sebenarnya sudah ada sejak pertama kali main, tapi yang sangat jelas pada saat Leon memasuki sarang Zombie.

Pintu tersebut terdapat simbol Iluminati dan pintu tersebut dibuat persis dengan pintu Omar Bin Khattab, Masjid Nabawi. Mari kita lihat: 


Lambang Asli Iluminati pada pintu tersebut:



Di bawah ini adalah pintu Umar Bin Khattab: 




Gabungan dan Unsur penghinaannya adalah :
 






Gambar kaligrafi dari pintu Omar bin Khattab dibuat sama persis tanpa diubah. Tulisan Kaligrafi yang Berlafadz Nabi Muhammad dan di tindih dengan lambang iluminati. Jadi maksud dari penghinaan ini adalah kita semua umat islam pengikut nabi Muhammad SAW di gambarkan ibarat zombie yang wajib di musnahkan dari muka bumi.

Itu tadi penelusuran tentang Game yang Menghina Islam. Mari kita musnahkan game tersebut dengan cara tidak memainkannya. Aku harap habis kamu membaca artikel ini. Kamu bisa ngasih tahu temen-temen yang lain yang mungkin belum tahu.

Sebenarnya hampir semua game dan bahkan film kartun memiliki unsur yang sedikit menyinggung Islam dan ada unsur satanicnya. Saran dariku, marilah kita menggunakan waktu dengan hal yang lebih berguna dan jangan berlebihan.



Alhamdulillah,moga bermanfaat ya kawan. ^_^
- 5 Game yang tanpa kita sadari telah menghina Islam

Sabtu, 14 Juli 2012

Sepenggal Kisah Anak Amrik yang Masuk Islam



Kisah spiritual anak amerika yang memeluk islam hanya karena dia baca mengenai buku Islam, setelah sebelumnya orang tuanya memberinya semua buku seluruh agama yang ada di dunia. Orang tua itu memutuskan agar anaknya sendirilah yang memilih agama yang diyakininya dapat menjadi tuntunan hidupnya. Rasulullah Saw, bersabda : “Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari.)
Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadis tersebut di atas. Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu juga dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal Ia tak pernah bertemu muslim seorang pun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari shalat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan. Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslim pun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah Saw yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, “Apakah Engkau seorang yang hafal Al-Quran?”
Wartawan itu berkata: “Tidak”, Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.
Bocah itu kembali berkata: “Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankan demikian?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. “Apakah engkau bisa mendapatkan pakaian ihram? Apakah pakaian ihram tersebut mahal? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian Ia berkata dengan penuh penyesalan. “Tekadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidak tahuanku tentang waktu-waktu solat.”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah itu, “Apa yang membuatmu tertarik pada Islam? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja?” Dia diam sesaat kemudian menjawab “Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku.”
Wartawan bertanya kembali, : ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan?”
Ia tersenyum sambil menjawab, “Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama.” Kemudian dia meneruskan: “Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut.”
“Apakah cita-citamu?” Tanya wartawan
Dengan cepat Ia menjawab, “Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Mekkah dan mencium Hajar Aswad.”
“Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab tersebut?’ Tanya wartawan lagi.
Ibu Muhammad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata: “Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian orang menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain.”
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimana haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhamad meneruskan, “Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Mekkah al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, “Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Mekkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
“Apakah cita-citamu yang lain?’ Tanya wartawan.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslim. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” Jawab Muhammad.
Ibunya meliahat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, “Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
“Apakah engkau mempunyai cita-cita lain?” Tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al-Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam?” Tanya wartawan
Maka dia menjawab dengan meyakinkan: “tentu”
“Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan? Bagaimana engkau menghindari daging babi?”
Muhammad menjawab, “Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
“Apakah engkau shalat di sekolahan?”
“Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari”. Jawab Muhammad.
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara tersebut. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan, “Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.

Subhanallah, meski dalam keterbatasan dalam mempelajari islam tanpa seorang guru, tapi anak itu bertekat untuk mempelajari islam hingga ke Mekkah, sedangkan kita yang berada di tempat yang mayoritas muslim, apakah masih enggan untuk mempelajari islam,..??

- Sepenggal Kisah Anak Amrik yang Masuk Islam